NUNUKAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nunukan mendorong terwujudnya sekolah yang aman dan tangguh bencana melalui Simulasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di SMP Negeri 1 Nunukan, Rabu (21/10/2026).
Mewakili Bupati Nunukan H. Irwan Sabri, Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Nunukan, Sirajudin, secara resmi membuka kegiatan tersebut.
SPAB merupakan program untuk membangun kesiapsiagaan sekolah dalam menghadapi bencana sehingga risiko terhadap peserta didik, guru, tenaga kependidikan, serta sarana dan prasarana pendidikan dapat dikurangi.
Simulasi di SMP Negeri 1 Nunukan menjadi langkah penting untuk membiasakan warga sekolah bertindak cepat, tenang, dan tepat ketika bencana terjadi.
Dalam sambutan Bupati Nunukan yang dibacakan Sirajudin, disampaikan bahwa bencana dapat terjadi kapan saja tanpa peringatan, sehingga kesiapsiagaan harus dibangun sejak dini, termasuk di lingkungan sekolah.
Karena itu, simulasi ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan latihan nyata untuk meningkatkan kemampuan warga sekolah menghadapi situasi darurat dan melindungi keselamatan jiwa.
Sirajudin menegaskan bahwa sekolah harus menjadi tempat yang aman bagi seluruh peserta didik dan tenaga kependidikan. Sejalan dengan Permendikbud Nomor 33 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Program Satuan Pendidikan Aman Bencana, SMP Negeri 1 Nunukan diharapkan menjadi contoh bagi sekolah lain di Kabupaten Nunukan dalam membangun budaya sadar bencana.
Untuk itu, sekolah perlu memiliki tim siaga bencana, jalur evakuasi yang jelas, titik kumpul yang aman, serta Standard Operating Procedure (SOP) yang dipahami seluruh warga sekolah.
Ia juga menekankan peran guru sebagai pelindung pertama bagi peserta didik. Guru dan tenaga kependidikan diharapkan mampu menjaga ketenangan, memberikan arahan yang tepat, serta memastikan evakuasi berlangsung tertib dan aman.
Kepada para peserta didik, ia berpesan agar memahami langkah-langkah penyelamatan diri. Saat terjadi gempa bumi, siswa diminta melindungi kepala, berlindung di bawah meja yang kokoh, dan mengikuti jalur evakuasi menuju titik kumpul setelah kondisi memungkinkan.
Siswa juga diajak menerapkan pengetahuan dari simulasi di lingkungan keluarga, termasuk menyusun rencana evakuasi bersama orang tua di rumah.
“Tangguh bukan berarti tidak takut. Tangguh adalah tetap bertindak dengan benar meskipun kita takut,” ucap Sirajudin.
Sementara itu, Kepala SMP Negeri 1 Nunukan, Rustiningsih, menyampaikan bahwa pada 2026 kesiapsiagaan bencana dan perubahan iklim menjadi salah satu indikator tambahan dalam Rapor Pendidikan yang memengaruhi penilaian setiap satuan pendidikan.
Ia menjelaskan bahwa simulasi ini merupakan tahap puncak setelah sosialisasi selama tiga hari yang melibatkan 853 siswa.
“Kegiatan ini merupakan tahapan puncak yang sebelumnya diawali dengan sosialisasi selama tiga hari. Dengan jumlah siswa sebanyak 853 orang, kami berharap kolaborasi antara instansi terkait dapat terus terjalin untuk meningkatkan mutu pendidikan di SMP Negeri 1 Nunukan,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, Pemkab Nunukan berharap seluruh warga sekolah semakin memahami risiko bencana dan mampu melakukan tindakan penyelamatan secara tepat saat menghadapi keadaan darurat. (adv)
Editor: Riko Aditya.












