Lama Menunggu, Anak Pekerja Migran di Sebatik Barat Akhirnya Rasakan MBG

Kaltara, Nunukan13 Dilihat

NUNUKAN – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai dirasakan para pelajar di SMKN 1 Sebatik Barat, Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, Kamis (12/3/2026).

Bagi sebagian siswa, khususnya anak pekerja migran Indonesia yang tinggal di asrama sekolah, program ini menjadi kabar yang telah lama mereka nantikan.

Selama ini banyak dari mereka hanya mengetahui program MBG dari berita atau cerita yang beredar di media. Karena itu, ketika makanan bergizi tersebut benar-benar mulai dibagikan di sekolah mereka, suasana haru pun tak terhindarkan.

Kepala SMKN 1 Sebatik Barat, Mangestiningtyas, mengatakan sejumlah siswa pekerja migran kerap menyampaikan keinginan mereka kepada guru agar suatu saat bisa ikut merasakan program tersebut.

“Mereka sering bercerita ingin juga mendapat MBG seperti yang mereka lihat di pemberitaan. Jadi ketika program ini akhirnya sampai ke sekolah kami, rasanya sangat mengharukan,” ujarnya ketika diwawancarai.

Menurutnya, kehidupan sebagian siswa pekerja migran memang tidak selalu mudah. Kebutuhan sehari-hari mereka sangat bergantung pada kiriman uang dari orang tua yang bekerja di Malaysia.

Namun kiriman tersebut tidak selalu datang tepat waktu. Dalam kondisi seperti itu, para siswa biasanya harus menghemat pengeluaran untuk makan, bahkan terkadang saling membantu dengan cara berbagi atau urunan agar teman yang kesulitan tetap bisa makan. Situasi itulah yang membuat kehadiran program MBG terasa sangat berarti bagi mereka.

Di SMKN 1 Sebatik Barat sendiri terdapat sekitar 423 siswa, dengan 69 di antaranya merupakan anak pekerja migran Indonesia. Sebagian dari mereka tinggal di asrama sekolah agar dapat tetap melanjutkan pendidikan meski orang tuanya bekerja di luar negeri.

Sebelumnya, beberapa dari siswa tersebut bahkan sempat menghadapi hambatan untuk bersekolah karena belum memiliki dokumen kependudukan seperti Nomor Induk Kependudukan (NIK).

Melalui kerja sama antara pihak sekolah dan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, persoalan administrasi itu akhirnya dapat diselesaikan. Dengan adanya fasilitas asrama, mereka kini dapat menjalani proses belajar dengan lebih tenang.

Sementara itu, Satuan Pelayanan Pengelolaan Gizi (SPPG) Liang Bunyu yang menyalurkan MBG di wilayah tersebut menjadi salah satu dapur gizi yang mulai beroperasi di Pulau Sebatik. Layanan ini menyiapkan makanan untuk ratusan pelajar di kawasan Sebatik Barat.

Pembina Yayasan Aztrada Garuda Jaya, Ibnu Saud Is, mengatakan pelaksanaan program MBG di tahap awal tentu masih memerlukan proses penyesuaian.

Karena itu, ia berharap masyarakat dapat memberikan ruang bagi pengelola program untuk terus melakukan evaluasi dan perbaikan apabila ditemukan kekurangan dalam pelaksanaannya.

“Dalam program baru pasti ada proses pembenahan. Jika ada hal yang dirasa kurang, sebaiknya disampaikan langsung kepada pihak yang bertanggung jawab agar bisa segera diperbaiki,” katanya.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak terburu-buru menyebarkan keluhan di media sosial tanpa terlebih dahulu menyampaikannya kepada pengelola program.

Menurutnya, komunikasi langsung akan lebih efektif untuk memastikan setiap masukan dapat segera ditindaklanjuti. Penyaluran MBG di wilayah Sebatik Barat dilakukan oleh SPPG Liang Bunyu yang berada di bawah pengelolaan Yayasan Aztrada Garuda Jaya.

Dapur gizi ini menjadi unit kedua yang beroperasi di Pulau Sebatik. Melalui dapur tersebut, sekitar 876 pelajar dari tiga sekolah menjadi sasaran program MBG, yaitu SMKN 1 Sebatik Barat, SD Muhammadiyah 01 Sebatik Barat, dan SDN 02 Sebatik Barat.

Penulis: Riko Aditya