Jembatan Sekolah Anak TKI Kini Berdiri

Kaltara, Nunukan22 Dilihat

NUNUKAN – Senyum bahagia terpancar dari wajah para siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darul Furqon saat melintasi jembatan baru di Kampung Loudres, Desa Sungai Limau RT 14, Kecamatan Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, Sabtu (14/3/2026).

Jembatan tersebut kini kembali dapat digunakan setelah sebelumnya rusak akibat banjir beberapa bulan lalu. Infrastruktur sederhana ini menjadi akses utama bagi anak-anak pekerja migran Indonesia yang tinggal di wilayah perbatasan Indonesia–Malaysia untuk menuju sekolah.

Kapolda Kalimantan Utara, Irjen Pol Djati Wiyoto Abadhy, datang langsung meninjau jembatan tersebut. Dalam kunjungannya, ia menyempatkan diri menyapa para siswa yang setiap hari melintasi jalur tersebut untuk menempuh pendidikan.

Beberapa siswa bahkan mengabadikan momen bersama Kapolda sebagai bentuk rasa syukur atas hadirnya kembali jembatan yang selama ini mereka tunggu.

Resky dan Riski, siswa kelas VI MI Darul Furqon, mengaku kini lebih tenang saat berangkat sekolah. Sebelumnya, kondisi jembatan yang rusak membuat aktivitas belajar sering terhenti, terutama ketika hujan turun.

“Sekarang sudah tidak takut lagi kalau mau sekolah. Dulu kalau hujan biasanya libur karena jalannya bahaya,” ujar keduanya.

Kedua anak kembar itu diketahui tinggal di Kampung 900, Sabah, Malaysia, dan setiap hari menyeberang ke wilayah Indonesia untuk bersekolah.

Peristiwa ambruknya jembatan Kampung Loudres sempat menjadi perhatian publik pada akhir 2025 lalu setelah foto dan video kondisi jembatan yang rusak beredar luas di media sosial.

Dalam rekaman tersebut terlihat sejumlah siswa berseragam madrasah hanya bisa duduk di tepi jembatan yang hanyut diterjang banjir, menunggu kepastian kapan mereka dapat kembali menyeberang menuju sekolah.

Selain menjadi akses pendidikan, jembatan ini juga digunakan masyarakat untuk mengangkut hasil perkebunan, termasuk kernel kelapa sawit dari kebun warga.

Menanggapi kondisi tersebut, jajaran Polda Kalimantan Utara melalui Satuan Brimob Kompi 2 Batalyon B Pelopor membangun kembali jembatan tersebut sejak Desember 2025 dengan melibatkan masyarakat sekitar secara gotong royong.

Kapolda Kaltara Irjen Pol Djati Wiyoto Abadhy mengatakan pembangunan jembatan ini merupakan bentuk kepedulian Polri terhadap kebutuhan masyarakat di wilayah perbatasan.

“Kami ingin memastikan anak-anak di perbatasan tetap memiliki akses yang aman untuk bersekolah. Pendidikan adalah masa depan mereka, sehingga fasilitas dasar seperti jembatan harus kita bantu hadirkan bersama masyarakat,” ujar Djati.

Ia juga menegaskan bahwa kehadiran Polri tidak hanya berkaitan dengan keamanan, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

“Pembangunan jembatan ini adalah wujud pengabdian kami. Polri hadir untuk membantu kesulitan masyarakat, termasuk memastikan akses pendidikan dan aktivitas ekonomi warga tetap berjalan,” katanya.

Sebagai simbol kebersamaan dan semangat nasionalisme di wilayah perbatasan, jembatan tersebut diberi nama Jembatan Merah Putih Presisi.

Menurut Kapolda, nama tersebut dipilih sebagai pengingat pentingnya menjaga semangat persatuan serta kebanggaan sebagai bagian dari Indonesia meskipun tinggal di kawasan tapal batas.

“Saya berharap masyarakat dapat bersama-sama menjaga dan merawat jembatan ini. Semoga keberadaannya bisa bertahan lama dan memberikan manfaat bagi pendidikan anak-anak serta perekonomian warga perbatasan,” pesannya.

Penulis: Riko Aditya