Jalan Krayan Berlumpur, Warga Tanam Padi di Tengah Jalan

Kaltara, Nunukan29 Dilihat

NUNUKAN – Kondisi akses transportasi di wilayah dataran tinggi Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, kembali menjadi sorotan setelah sebuah video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan kendaraan terjebak lumpur di jalan utama antar kecamatan.

Dalam rekaman yang diunggah warga, beberapa mobil gardan ganda terlihat kesulitan melintas karena jalan berubah menjadi kubangan lumpur tebal. Kendaraan bahkan nyaris tidak bisa bergerak karena lumpur yang menutup sebagian badan mobil.

Para pengemudi terpaksa turun tangan sendiri untuk mengatasi kondisi tersebut. Dengan menggunakan cangkul, sekop, dan alat sederhana lainnya, mereka berusaha membersihkan lumpur agar kendaraan dapat kembali melaju.

Tidak sedikit sopir yang akhirnya harus bermalam di tengah perjalanan karena akses jalan tidak memungkinkan dilalui.

Di tengah situasi tersebut, para sopir melakukan aksi simbolis dengan menanam padi dan pohon pisang di badan jalan yang berlumpur. Aksi itu dilakukan sambil meneriakkan kata “Merdeka”, sebagai bentuk sindiran terhadap kondisi infrastruktur di wilayah perbatasan yang dinilai masih memprihatinkan.

Video tersebut diunggah oleh tokoh masyarakat Krayan, Gat Khaleb. Ia menjelaskan lokasi kejadian berada di ruas jalan penghubung tiga kecamatan, yakni Krayan Induk, Krayan Barat, dan Krayan Selatan.

“Ruas itu merupakan jalan yang menjadi kewenangan provinsi. Setiap musim hujan memang hampir selalu seperti itu kondisinya,” kata Gat Khaleb saat dihubungi, Jumat (13/3/2026).

Menurut Gat yang juga merupakan Anggota DPRD Nunukan, masyarakat Krayan sebenarnya sudah berulang kali menyampaikan keluhan terkait kondisi jalan tersebut. Ia menilai perbaikan yang dilakukan selama ini belum mampu memberikan solusi yang bertahan lama.

“Tahun lalu ada anggaran sekitar Rp8 miliar untuk pemeliharaan. Tetapi pengerjaannya hanya menimbun dengan tanah kering, sehingga ketika hujan datang jalan kembali rusak,” ujarnya.

Ia menilai metode tersebut tidak efektif untuk wilayah Krayan yang memiliki curah hujan tinggi. Karena itu masyarakat sebenarnya mengusulkan agar jalan ditimbun menggunakan batu agar lebih kuat dan dapat dilalui kendaraan.

“Warga tidak meminta jalan harus diaspal. Cukup ditimbun batu supaya kendaraan bisa lewat tanpa harus terjebak lumpur berhari-hari,” jelasnya.

Gat menambahkan, kondisi jalan yang buruk tidak hanya menyulitkan perjalanan warga, tetapi juga berdampak pada distribusi barang kebutuhan pokok. Jika akses terhambat, harga sembako, bahan bakar, hingga ongkos transportasi bisa melonjak.

Ia berharap pemerintah lebih serius memperhatikan pembangunan infrastruktur di wilayah perbatasan, agar masyarakat Krayan tidak terus-menerus menghadapi persoalan akses transportasi setiap musim hujan tiba.

Penulis: Riko Aditya