Ongkos Carter Pesawat Tembus Rp90 Juta, BNPB Tetap Kirim Bantuan untuk Korban Longsor Krayan Selatan

Kaltara, Nunukan8 Dilihat

NUNUKAN – Akses jalan darat yang terputus total akibat longsor membuat pengiriman bantuan logistik ke Kecamatan Krayan Selatan, Kabupaten Nunukan, hanya bisa ditempuh lewat jalur udara. Padahal, biaya carter satu kali penerbangan pesawat perintis menuju wilayah tersebut mencapai sekitar Rp90 juta.

Tenaga Ahli Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kolonel (Purn) Agus Marsanto, mengungkapkan hal itu di sela pelepasan pengiriman perdana bantuan logistik dari Bandara Nunukan menuju Bandara Long Bawan, Kecamatan Krayan, Jumat (24/7/2026).

Bantuan diangkut menggunakan pesawat perintis Mission Aviation Fellowship (MAF) yang hanya mampu membawa muatan sekitar 600 kilogram dalam sekali terbang.

“Kalau dihitung-hitung, ongkos carter pesawat tidak sebanding dengan nilai bantuan yang jauh lebih rendah. Tapi kita tidak bicara soal nilai, ini misi kemanusiaan bagi masyarakat,” ujar Agus.

Dengan keterbatasan kapasitas angkut tersebut, pendistribusian bantuan diperkirakan membutuhkan enam hingga tujuh kali penerbangan, tergantung kondisi cuaca di Nunukan maupun Krayan Selatan. Agus menyebut, pihaknya bahkan sempat mempertimbangkan opsi jalur darat menggunakan kerbau sebagai alat angkut dari Krayan Induk menuju Krayan Selatan, namun rencana tersebut akhirnya dibatalkan.

“Sempat terpikir menggunakan kerbau, tapi sepertinya tidak efektif. Dikhawatirkan lambat sampai dan barang rusak di jalan,” katanya.

Ia menjelaskan, kehadiran BNPB dalam penanganan bencana longsor di Krayan Selatan menjadi bentuk perhatian pemerintah pusat terhadap masyarakat di wilayah perbatasan Indonesia.

“Saya diutus BNPB datang ke Kalimantan Utara, khususnya Nunukan, untuk menyalurkan bantuan logistik bagi saudara kita yang sedang mengalami musibah longsor,” ucapnya.

Pada pengiriman tahap awal ini, BNPB menyalurkan 400 paket sembako, 100 boks paket kebersihan (hygiene kit), dan 100 kaleng susu balita. Setiap paket sembako berisi beras 5 kilogram, gula pasir 1 kilogram, kornet dan sarden kalengan masing-masing satu kaleng, empat jenis biskuit, satu pak susu Dancow anak 390 gram, serta lima bungkus mi instan Indomie rasa ayam bawang. Total bantuan disalurkan untuk 400 keluarga terdampak, dengan ketentuan satu paket per keluarga.

Wakil Bupati Nunukan, Hermanus, yang turut hadir dalam pelepasan bantuan tersebut, memastikan pemerintah daerah juga akan mengirimkan paket bantuan tambahan yang secara teknis dikelola oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nunukan. Namun ia menegaskan, kewenangan perbaikan dan pembangunan jalan di kawasan perbatasan Krayan Selatan berada di tangan Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara, sementara peran pemerintah kabupaten terbatas pada penanganan dampak sosial yang dialami masyarakat.

“Bencana hidrometeorologi di Krayan Selatan sebenarnya sudah terjadi sejak Januari 2026, dengan puncak terparah pada 7 Juli 2026 ketika seluruh akses jalan tertutup longsor,” kata Hermanus.

Ia menambahkan, Pemkab Nunukan dan Pemprov Kaltara terus berkoordinasi baik untuk penanganan masa darurat maupun perbaikan jangka panjang dan permanen terhadap akses jalan di Krayan Selatan yang berstatus jalan provinsi.

Bencana hidrometeorologi yang dipicu curah hujan dan cuaca ekstrem tersebut memang tidak menimbulkan korban jiwa secara langsung, tetapi berdampak luas terhadap mobilitas warga. Seluruh jalur darat yang menghubungkan Krayan Selatan dengan kecamatan lain tertimbun material longsor, sehingga distribusi kebutuhan pokok warga nyaris lumpuh total sejak awal Juli 2026.

“Kebutuhan sembako masyarakat di sana mulai krisis akibat akses jalan putus total sejak awal Juli 2026,” ujar Agus Marsanto.

Editor: Riko Aditya