Fokus Perbatasan: Pasar Murah Jadi Instrumen Tekan Harga Jelang Nataru di Sebatik

NUNUKAN – Pemerintah Kabupaten Nunukan mulai memaksimalkan peran pasar murah sebagai instrumen pengendali harga di wilayah perbatasan. Langkah ini ditandai dengan pelaksanaan pasar murah di sekitar Patok Batas RI–Malaysia, Pulau Sebatik, yang menyasar langsung masyarakat di kawasan terluar menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Melalui Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian, dan Perdagangan (DKUKMPP), kegiatan tersebut diarahkan untuk memotong rantai distribusi bahan pokok yang selama ini menjadi salah satu penyebab tingginya harga di wilayah perbatasan. Kehadiran pasar murah di Patok Batas menjadi pendekatan baru agar warga tidak bergantung pada pasokan lintas negara.

Kepala Bidang Perdagangan DKUKMPP Nunukan, Dior Frames, menjelaskan bahwa pasar murah di kawasan perbatasan merupakan perluasan dari program stabilisasi harga yang telah berjalan sejak November 2025 di sejumlah kecamatan. Sebatik dipilih karena memiliki aktivitas ekonomi tinggi dan karakter wilayah yang berhadapan langsung dengan negara tetangga.

“Untuk pertama kalinya kami mencoba langsung di Patok Batas. Ini bagian dari upaya memastikan masyarakat perbatasan mendapatkan akses barang kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terkendali,” ujarnya, Selasa (26/12).

Ia menyebutkan, selain Patok Batas RI–Malaysia, pasar murah juga digelar di beberapa titik lain di Pulau Sebatik, seperti Kampung Lodres, Kecamatan Sebatik Tengah. Penentuan lokasi dilakukan dengan mempertimbangkan mobilitas warga serta potensi daya beli masyarakat setempat.

Dalam kegiatan tersebut, DKUKMPP mendistribusikan hampir satu ton bahan kebutuhan pokok atau setara satu unit mobil pikap. Komoditas yang dibawa didominasi bahan pangan dan kebutuhan rumah tangga harian yang selama ini paling dibutuhkan masyarakat.

Sejumlah harga ditawarkan lebih rendah dibanding pasar umum. Tepung terigu Segitiga Biru dijual Rp13.000 per kilogram, minyak goreng Indonesia Rp19.000 per liter, sirup Rp12.000 per botol, kopi Rp11.000, serta beras SPHP kemasan 5 kilogram seharga Rp63.000.

Menurut Dior, perbedaan harga tersebut terjadi karena barang didatangkan langsung dari gudang dan dikirim ke lokasi tanpa perantara, sehingga biaya distribusi dapat ditekan.

“Skema ini membuat harga jual bisa lebih rendah. Tujuannya jelas, agar masyarakat perbatasan merasakan manfaat langsung dan tidak terbebani lonjakan harga jelang hari besar,” katanya.

Selain di Sebatik, pasar murah DKUKMPP juga telah menjangkau wilayah Sebuku Tulin Onsoi, Sembakung Atulai, dan Lumbis, masing-masing dilaksanakan dua kali di lokasi berbeda. Kegiatan serupa juga digelar di Alun-Alun Nunukan dan sejumlah kampung lainnya sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok.

Pemerintah daerah berharap, keberadaan pasar murah di kawasan perbatasan tidak hanya membantu menekan harga, tetapi juga memperkuat kehadiran produk dalam negeri di wilayah strategis yang berbatasan langsung dengan Malaysia. (uws)