Berbenah Kejar Peminat, Politeknik Nunukan Fokus Perluas Akses dan Benahi Mutu, Prodi, serta Fasilitas

Featured, Nunukan12 Dilihat

NUNUKAN – Upaya memperkuat eksistensi sebagai satu-satunya perguruan tinggi vokasi negeri di Kalimantan Utara terus dilakukan Politeknik Negeri Nunukan.

Kampus di wilayah Kabupaten Nunukan ini masih menghadapi tantangan klasik, seperti jumlah mahasiswa yang belum bertumbuh signifikan meski telah berdiri hampir satu dekade.

Direktur Arkaz Viddy mengungkapkan, rendahnya angka pendaftar bukan disebabkan kualitas pendidikan, melainkan persepsi masyarakat yang masih berorientasi ke kampus di kota besar.

“Kami melihat persoalannya lebih kepada pilihan masyarakat. Banyak yang merasa harus keluar daerah untuk mendapatkan pendidikan yang bagus, padahal dari sisi kurikulum dan praktik, kami sudah sangat siap,” katanya di hadapan para anggota dewan ketika berdiskusi soal pendidikan, Minggu (22/2/2026).

Dirinya menambahkan, kampus kini mengevaluasi strategi penerimaan mahasiswa dengan memperluas sosialisasi hingga ke wilayah pedalaman yang selama ini belum terjangkau optimal.

“Kami akui belum maksimal menyentuh sekolah-sekolah di daerah terpencil. Itu yang sekarang kami genjot, supaya informasi tentang kampus ini benar-benar sampai ke masyarakat,” ujarnya.

Untuk meningkatkan daya tarik, tahun ini dibuka empat program sarjana terapan baru, yakni Bisnis Digital, Teknik Sipil (fokus infrastruktur jalan dan jembatan), English Business, serta Agrobisnis. Program tersebut dirancang mengikuti kebutuhan tenaga kerja di kawasan perbatasan dan sektor industri.

“Kami tidak ingin membuka jurusan hanya karena tren. Semua prodi disusun berdasarkan kebutuhan riil daerah agar lulusan bisa langsung terserap,” jelas Arkaz.

Menurutnya, pendekatan vokasi yang menitikberatkan praktik menjadi keunggulan tersendiri dibandingkan pendidikan akademik murni.

“Model pendidikan kami berbasis keterampilan. Mahasiswa dipersiapkan untuk masuk dunia kerja, bukan hanya teori di kelas,” tambahnya.

Penguatan kualitas pengajar juga dilakukan melalui pelatihan luar negeri, termasuk ke Taiwan dan China, terutama dalam bidang teknologi dan pengajaran terapan. Beberapa dosen saat ini juga sedang menempuh pendidikan doktoral.

“Kami ingin dosen terus berkembang supaya ilmu yang diberikan ke mahasiswa selalu relevan dengan perkembangan industri,” katanya.

Selain itu, kampus tengah mengusulkan pembentukan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) agar mahasiswa dapat memperoleh sertifikasi kompetensi tanpa harus keluar daerah.

“Kalau sertifikasi sudah bisa dilakukan di sini, mahasiswa tidak perlu lagi mengeluarkan biaya tambahan ke luar kota. Itu bagian dari efisiensi yang kami perjuangkan,” ungkapnya.

Sementara itu, dalam mendukung kenyamanan belajar, pembangunan hunian mahasiswa berkonsep student village telah diusulkan ke Kementerian PUPR dengan kapasitas ratusan mahasiswa. Selain itu, laboratorium terpadu modern juga mulai disiapkan.

“Fasilitas harus ikut berkembang. Kami ingin mahasiswa dari luar daerah merasa nyaman tinggal dan belajar di sini,” jelas Arkaz.

Kampus juga telah berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi terkait rencana pengembangan kelembagaan jangka panjang.

“Target kami beberapa tahun ke depan menjadi pusat pendidikan vokasi unggulan di wilayah perbatasan,” tegasnya.

Dukungan terhadap pengembangan kampus datang dari DPRD Nunukan. Para legislator menilai peningkatan jumlah mahasiswa harus diiringi dengan penguatan kerja sama industri agar lulusan memiliki kepastian peluang kerja.

“Yang paling penting adalah link dengan dunia usaha. Kalau lulusan mudah terserap kerja, otomatis masyarakat akan percaya,” ujar anggota Komisi 1 DPRD Nunukan, M. Mansur.

Mereka juga mendorong promosi kampus dilakukan lebih masif, termasuk melibatkan media agar informasi program pendidikan lebih dikenal publik.

“Publik harus tahu apa saja yang sudah dilakukan kampus ini. Sosialisasi tidak boleh berhenti,” harapnya.

Meski menghadapi berbagai tantangan, kampus optimistis dengan pembenahan yang berjalan, mulai dari akademik, SDM, hingga fasilitas, minat generasi muda untuk kuliah di daerah sendiri akan terus meningkat.

“Kami ingin menunjukkan bahwa kuliah berkualitas tidak harus jauh dari rumah. Di perbatasan pun bisa maju,” tutup Arkaz.

Penulis: Riko Aditya