NUNUKAN – Ketersediaan sembako di wilayah perbatasan dan pedalaman Nunukan masih sangat bergantung pada kemampuan pemerintah daerah menembus keterbatasan akses transportasi. Di Kecamatan Lumbis dan sekitarnya, jalur sungai menjadi urat nadi utama penyaluran kebutuhan pokok melalui program Subsidi Ongkos Angkut (SOA), meski penuh risiko dan tantangan teknis.
Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian, dan Perdagangan (DKUKMPP) Nunukan mencatat, pada 2025 anggaran SOA dialokasikan sebesar Rp1,8 miliar, seluruhnya difokuskan untuk pembiayaan transportasi. Angka ini meningkat dibanding tahun sebelumnya seiring naiknya biaya operasional pesawat dan angkutan sungai.
Kepala Bidang Perdagangan DKUKMPP Nunukan, Dior Frames, menjelaskan bahwa pemerintah daerah hanya menanggung biaya angkut, sementara pengadaan sembako dilakukan langsung oleh penyalur. Skema ini diterapkan agar distribusi tetap berjalan meski biaya logistik tinggi.
“Anggaran itu khusus transportasi, untuk pesawat dan perahu. Barangnya disiapkan penyalur. Pemerintah memastikan aksesnya,” ujarnya.
Distribusi dilakukan melalui dua moda, udara dan sungai. Jalur udara melayani wilayah Krayan dengan 18 kali penerbangan menggunakan pesawat Smart Air. Setiap kecamatan mendapat jatah enam penerbangan bertahap, dengan kapasitas sekitar 1,2 ton per sekali terbang.
Sementara di wilayah Lumbis, tantangan justru lebih kompleks. Pengangkutan sembako mengandalkan perahu sungai berkapasitas 1,5 hingga 2 ton, yang sangat dipengaruhi kondisi arus dan kedalaman sungai. Jalur Mensalong–Bintar ditempuh sekitar dua jam, lalu dilanjutkan hingga tujuh jam ke Lumbis Pansiangan, bahkan bisa delapan jam menuju Lumbis Hulu.
“Kalau muatan terlalu berat, perahu sulit jalan. Banyak titik dangkal dan berbatu, itu yang sering jadi kendala,” kata Dior.
Risiko keterlambatan hingga barang tersangkut di sungai kerap terjadi. Namun, DKUKMPP memastikan distribusi tidak pernah terhenti total. Penyaluran dilakukan bertahap sampai sembako tiba di titik sandar.
Setelah itu, tantangan belum selesai. Barang masih harus dipikul menuju desa tujuan dan dipasarkan melalui koperasi atau kelompok usaha setempat, mengingat keterbatasan fasilitas pasar. Karena itu, jenis sembako yang dikirim dipilih yang tahan lama dan tidak mudah rusak.
Dior menambahkan, kondisi lapangan kerap menuntut upaya ekstra. Dalam situasi tertentu, perahu bahkan harus diangkat bersama-sama melewati jalur sungai yang tidak bisa dilalui mesin.
“Ini memang berat, tapi harus dilakukan. Akses pangan masyarakat perbatasan tidak boleh terputus hanya karena medan yang sulit,” pungkasnya. (uws)












