NUNUKAN – Menjelang libur panjang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026, aktivitas pasar di Kabupaten Nunukan mulai menunjukkan dinamika khas akhir tahun. Meski ketersediaan bahan pokok secara umum dinilai aman, pergerakan harga cabai rawit menjadi sinyal awal adanya tekanan distribusi yang perlu diantisipasi.
Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (DKUKMPP) Nunukan mencatat, hingga pertengahan Desember, sebagian besar kebutuhan pokok masyarakat masih dijual dengan harga stabil. Namun, cabai rawit mengalami penyesuaian harga seiring terbatasnya pasokan yang masuk ke daerah perbatasan tersebut.
Kepala Bidang Perdagangan DKUKMPP Nunukan, Dior Frames, menyebutkan bahwa kenaikan harga cabai rawit lebih dipengaruhi faktor logistik dibanding lonjakan permintaan. Ketergantungan Nunukan terhadap pasokan dari luar daerah, terutama Sulawesi Selatan, membuat harga cabai sangat sensitif terhadap jadwal dan kelancaran transportasi laut.
“Distribusi cabai sangat bergantung pada kapal. Kalau ada keterlambatan atau jeda pelayaran, stok di pasar otomatis berkurang dan harga ikut bergerak naik,” ujarnya, Selasa (16/12).
Saat ini, harga cabai rawit di tingkat pasar berada di kisaran Rp 80.000 per kilogram, meningkat sekitar Rp 20.000 dibandingkan beberapa waktu sebelumnya. Meski mengalami kenaikan, pemerintah daerah menilai kondisi tersebut masih dalam batas kewajaran dan belum mengganggu daya beli masyarakat secara luas.
DKUKMPP memperkirakan tekanan harga berpotensi kembali terjadi menjelang akhir Desember, seiring kebiasaan penghentian sementara pelayaran kapal dari Sulawesi menjelang pergantian tahun. Jeda distribusi selama beberapa hari tersebut kerap berdampak langsung pada ketersediaan komoditas segar, khususnya cabai.
Di sisi lain, produksi cabai lokal di Nunukan dinilai belum mampu menjadi penyangga utama pasar. Meski kualitasnya lebih segar dan diminati konsumen, jumlah produksi masih terbatas dan bersifat musiman. Harga cabai lokal bahkan dapat menembus Rp 100.000 per kilogram ketika pasokan luar daerah menipis.
Sementara itu, komoditas pangan lainnya masih menunjukkan kondisi relatif stabil. Harga beras medium berada di kisaran Rp 14.000–Rp 14.500 per kilogram, sedangkan beras premium dijual sekitar Rp 16.000–Rp 16.200 per kilogram. Tepung terigu dan kebutuhan pokok lainnya juga belum mengalami fluktuasi signifikan.
Adapun stok minyak goreng di tingkat agen mulai menipis akibat meningkatnya permintaan, terutama seiring penyaluran bantuan sosial oleh pemerintah daerah. Namun, DKUKMPP memastikan pasokan masih dapat dikendalikan dan belum memicu gejolak harga di pasaran.
Pemerintah Kabupaten Nunukan menegaskan akan terus memantau pergerakan harga dan distribusi barang kebutuhan pokok hingga puncak libur Nataru, guna memastikan stabilitas pasar tetap terjaga dan masyarakat tidak terbebani lonjakan harga yang berlebihan. (afw)












